Jonggring Saloko, Pantai 1001 Kesan, dan Potensinya yang Terabaikan

Sebagai tempat wisata, Ia menawarkan nuansa, fenomena, dan pengalaman yang luar biasa serta berbeda dari wisata alam kebanyakan. Satu kata seragam yang keluar dari mulut kami seusai menjajakinya, PUAS!

DSC_0878

Ialah, Jonggring Saloko. Pantai di pesisir selatan Pulau Jawa ini secara administratif terletak di Dusun Gondangtowo ujung selatan, Desa Mentaraman, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang. Jika dilihat dalam peta, pantai ini berdekatan dengan Pantai Ngliyep, Pantai Balekambang, Sendang Biru, dan sederet pantai-pantai termasyur lain di Kabupaten Malang Selatan. Jonggring Saloka memang belum banyak dikenal, namun jika dibandingkan dengan pantai-pantai di Bali sekalipun, pantai ini jauh lebih memuaskan, dengan alamnya yang masih natural, eksotis, cantik dan bersih.

Jonggring Saloko Map

DSC_0926

Selain termanjakan oleh alamnya, ada beribu kesan yang muncul ketika kami mengunjungi tempat ini.

Menantang. Lantaran akses menuju tempat wisata ini luar biasa extreem. Lepas dari Desa Donomulyo, perkampungan terakhir menuju Jonggring, kami harus melewati medan dengan topografi yang naik-turun, terjal, berkelok tajam, licin, dan berbatu cadas (kami biasa menyebutnya bebatuan makadam), selama kurang lebih 1 jam lamanya. Let’s say “Off-road time!!!” Terbayang bagaimana sulitnya track ini dilalui ketika musim penghujan, don’t try this in the rain season.

Sepanjang track berbatu itu tak ada satu pun rumah warga yang kami temui, hanya hutan dan ladang di kanan-kiri jalan. Hanya sesekali kami temui beberapa orang yang tampak sibuk bekerja. Perasaan excited akan off-road berangsur berubah menjadi was-was dan waspada, bagaimana bila ban bocor, bagaimana bila terjadi ini, itu, anu, inu, ditambah lagi rombongan kami yang saat itu hanya berjumlah 3 orang. Beruntunglah kami akhirnya sampai di depan pintu gerbang wisata.

Gerbang Masuk Jonggring Saloko

Sriing…

Terasing. Melihat suasana di sekitarnya, seketika kami merasa sedang tersesat di pulau asing, tak berpenghuni, sepi, terisolir. Berbagai spekulasi muncul di benak kami masing-masing. Sepertinya tempat ini dulu pernah ramai, entah mungkin ada sebab musabab kemudian ditinggalkan begitu saja oleh penduduknya. Bekas bangunan dan puing-puing reruntuhan genteng dan batu bata yang berserakan, toilet umum, loket masuk, rumah singgah, semua terlihat seperti tak terawat. Tampak begitu mistis bagi kami.

Suasana semakin mencekam ketika kami mendengar suara lengukan anjing yang awalnya kami kira serigala. Tak jauh di depan, kami melihat beberapa ekor anjing berkeliaran dan seorang pria setengah baya tengah duduk sambil mengelus-elus dan memberi makan salah satu diantaranya. Guratan mukanya yang sedikit tegas-keras dengan senyum tipis yang ia lempar pada kami memberi kesan angker di wajahnya. Bayangan-bayangan negative dan ketakutan seketika menyeruak di benak kami, jangan-jangan…… cerita-cerita mistis dan thriller seperti di televisi dan film-film itu akan terjadi pada kami.

Namun judgement dan generalisasi itu sepertinya runtuh ketika kami mencoba menyapa dan berkomunikasi dengan beliau. Terlebih lagi selama kami tinggal beberapa hari di tempat ini, beliaulah yang banyak berjasa.

Hawa dan suasana yang beda. Sunyi, hanya suara deburan ombak dan ocehan kami bertiga di se-antero wisata ini (ditambah jenggungan anjing-anjing itu tentunya). Tidak seperti wisata lain yang biasa dipadati wisatawan, kami bertiga berasa berada di pantai pribadi.

Ayem. Udara yang masih segar, jauh dari polusi, tenang, nyiur kelapa melambai menemani hangatnya sore itu, ditambah suasana asri dan alami, membuat kami lepas sejenak dari beban-beban duniawi. Sensasi plong!

Takjub. Ada beberapa spot yang menarik di sekitar pantai tersebut. Sebelum kami mendirikan tenda untuk bermalam, kami menyisir sekitar pantai demi memenuhi rasa penasaran kami.

 DSC_0827

 DSC_0936

Watu Nggebros

Usai menyisir pantai berpasir cokelat, sedikit menaiki karang kami menemukan spot lain “Watu Nggebros”. Ialah sebuah karang besar dengan gua di bawahnya, sedikit celah untuk air laut dari sisi lain karang masuk dan menyembur keluar melalui lubang goa itu. bruusssshh!  Semburannya hingga ketinggian 5 meter ke atas. Karena itulah orang sekitar menyebutnya Watu Nggebros (jawa: batu menyembur, red).

 DSC_0910

 Berjalan sedikit lagi kami akan sampai pada pantai berpasir hitam. Dari kejauhan hanya terlihat pasir berwarna cokelat seperti biasanya, namun setelah diamati lebih dekat, lapisan atas pantai tersebut adalah pasir besi hitam, sehingga tampak berbalur-balur hitam-cokelat pada setiap bekas seretan ombaknya. Hmm, pasir besi, sebuah potensi yang sayang sekali diabaikan oleh pemerintah.

 DSC_0747

Gondang Towo

Selain pantai dan potensi tambang pasir besi, di Jonggring Saloko juga terdapat sungai air payau. Yang mengherankan, jarak antara sungai dan bibir pantai hanya kisaran 20 meter. Orang menyebutnya Gondang Towo. Mungkin karena alasan itu juga daerah ini dinamakan Dusun Gondangtowo. Airnya yang bersih, bening kehijauan alami nan hangat menjadi tempat menyenangkan untuk mandi. Apalagi beramai-ramai dengan sorak sorai teman-teman, sejenak melupakan sang waktu. Ajiiiib..!

Mereka Bukan Warga Asli

Sedikit menjelajah ke dalam, akhirnya kami temukan manusia lain di tempat ini (selain bapak yang kami temui di awal). Dari mereka kami tahu banyak hal. Rupanya tempat ini memang tidak berpenduduk. Mereka adalah para pekerja – yang juga warga pendatang – yang memanfaatkan lahan nganggur untuk berladang.

 DSC_0951

Menurut cerita mereka, Jonggring Saloka dulu di tahun 1996 ke belakang merupakan tempat wisata, cukup ramai dikunjungi wisatawan. Bangunan loket, toilet, dan rumah singgah yang ada sekarang adalah sisa bangunan fasilitas pariwisata yang telah lama ditinggalkan. Sempat ada taken kontrak antara pemerintah dan penanam saham untuk mengembangkan tempat ini, namun karena alasan tertentu yang tidak diketahui secara jelas oleh warga, pemerintah urung mengolah tempat berpotensi luar biasa tersebut. Walhasil, sampai saat ini Junggring Saloka menjadi salah satu daftar wisata yang terabaikan.

Adat Suro

Tak selalu sepi, acara adat Jawa “Suroan” rutin dihelat di pantai ini setiap tanggal 1 Suro (kalender Jawa, red). Ratusan warga dan beragam kegiatan adat turut meramaikannya, seperti ngumbah keris dan sesembahan Nyi Roro Kidul.

Seandainya Jonggring Saloka ini diolah dengan baik, diperbaiki fasilitasnya, dipermudah akses masuknya, mungkin tempat sudah menjadi sumber pemasukan yang cukup signifikan untuk kas daerah. Sayang sekali.

Mengunyah Mimpi, Mencerna Hikmah

 DSC_0831

Menikmati sayup deburan ombak, cahaya keemasan pantulan matahari yang berarak turun kembali ke peraduan, hangatnya perapian dan segelas kopi panas, menemani kami dan sang waktu menggulung hari. Perlahan warna-warni hijau, biru, cokelat, kelabu, pudar ditelan gelap. Tenda telah gagah, perut cukup terisi, hening dan sepi berusaha kami tepis, demi menutupi sepoi-sepoi angin yang menambah dinginnya malam campur merinding.

Di malam-malam berikutnya, kami bergabung bersama keempat kawan lain yang menyusul kami di sini, menepis tangis, menjemput pagi, berkelakar akan waktu dan mimpi.

Aku rindu meracau damai di bibir pantai,

tempat lidah ombak mengulum lembut pijak basah akar tubuhku.

Mengaum lirih di kerongkongan alam

tentang gemertak gigi gigih kita.

Mengunyah mimpi,

mencerna hikmah.

(aL)

8 Responses to Jonggring Saloko, Pantai 1001 Kesan, dan Potensinya yang Terabaikan

  1. sri mengatakan:

    sungguh luar biasa

  2. Ilham mengatakan:

    kalo boleh tanya, untuk sepeda motor ditaruh dimana?
    apa ada tempat yang sekiranya “aman” utk parkir kendaraan?

    • Alianti Lazuardi mengatakan:

      Di sana ada rumah singgah warga. Kami biasa menitipkan sepeda di sana karena memang tidak ada fasilitas parkiran.

  3. tyan adi kurniawan mengatakan:

    aku rindu

    melantun lirih berbisik pada pasir pasir itu
    bersholawat bersama kalian

    aku rindu

    pada salutku atas hidup kalian

    kapan kita memulainya kembali
    memandangi birunya samudra

    jarak selalu menciptakan kerinduan

    aku rindu

    cusy
    almas

    hahahaha

    aku rindu melingkar kembali kawan
    kapan kita memulainya?

    -mas adi-

  4. Amrifaizal mengatakan:

    Kereeen, mobil bisa melintas kah ke pantai jonggring saloko sama watu gebros ?

    • Alianti Lazuardi mengatakan:

      Mobil jenis apa mas?
      Mobil cuma bisa sampai di Jonggring Saloko, dari sana kita bisa jalan kaki ke watu nggebros ataupun pantai pasir hitam.

  5. rendyn amirul mengatakan:

    biarkan tetap alami saja jonggring,
    dengan segala tantangan jan off road yang katanya cuma 7km, dengan hasil yag indahdan alami.,

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *