Berai

Mengubur angkuh di antara titik spasi dan koma.

Jadi ihwal yang tak lagi patut dipertanyakan.

Sebab nadanya pecah, jalinannya sumbang,

terurai usai teruruk

dan berai.

 

Ia lupa dari mana jin berkaki panjang itu membius dan membawanya

Dadanya bak busur panah, membusung dan patah usai melejitkan tombak mimpi ke titik terjauh dari pandangannya

 

Demi apa lagi ia dapat menipu diri

Jika kasih Tuhannya lah nikmat yang tak dapat ia ganti

 

Sedangkan, jauh di kedalaman hatinya

Seonggok rindu mencuat

Suara terlirih menjadi nyanyi paling nyaring dan menyayat

Mengaum, merintih di kerongkongan semesta

Mengunyah mimpi

Mencerna hikmah

Diam-diam

dalam-dalam

 

“Lupakah, dengan apa t’lah kau tukar cita?”

Demi….

Demikian cerminnya bertegur sapa, memaknai sesal dan dosa

Kepada Tuhan lah, sebaik-baiknya tempat kembali

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *