Mafia dan Pemuda Apatis

Menurut saya, yang lebih membahayakan negara bukan karena para koruptor dan mafia besar negara. Justru mereka adalah aset besar negara kita. Kecerdasan di atas rata-rata, keahlian melihat dan menciptakan peluang, serta kemampuan mengkoordinir dan memobilisasi tim inti hingga partisipan dengan hanya berasakan TST (Tahu Sama Tahu), ini penting unyuk dilestarikan. Tentu saja dengan orientasi yang berbeda.

Lepas dari itu, yang lebih membahayakan dan paling banyak menjerumuskan justru adalah sifat apatis yang menjangkiti warga negara, kaum muda terutama, yang menyebar sporadis melalui perantara air dan udara. Korban terbanyaknya adalah pemuda pemudi yang menggantungkan hidupnya dan berpedoman pada aliran air, kemanapun air membawanya ia patuh dan ikut serta. Pula kaum muda yang menikmati hembusan angin yang ia kenal begitu jinak dan mengangkatnya jauh membumbung ke titik tertinggi dalam kehidupan versinya sendiri, memegang pedoman bahwa hidup hanya sekali maka wajar dan pentinglah mendongkrak derajat diri dalam kacamata dunia.

Saya menyebutnya sifat bukan sikap. Ada perbedaan yg mendasar yang terletak pada kesadaran dalam meletakkannya. Sifat apatis terbentuk karena proses pembiasaan sikap dan berulang sehingga membentuk pola yang sama.

Pernah ada seorang kawan yang mengingatkan saya ketika hampir saja terlena berenang dalam kubangan lingkungan apatis. Beliau berkata, “Sampean tahu nggak, kalau lawan mencintai itu sebenarnya bukan benci.” Pernyataan ini membuat saya berpikir keras sekaligus mendefrag ulang memori-memori di otak saya yang mungkin selama ini salah tempat, sebelum akhirnya ia menjawab sendiri pertanyaan yang dilontarkannya.

“Lawan dari mencintai itu adalah KETIDAKPEDULIAN.”

Blar! Saya merasa tertampar, dan melek tiba-tiba.

Kata-kata itu tidak serta merta saya telan. Dari proses pengendapan setelah diaduk-aduk sedemikian rupa, kemudian saya mencoba  menyimpulkan beberapa point :

Yang pertama. Bahwa sifat apatis ini adalah salah satu refleksi dari ketiadaan atau tidak bertumbuhnya rasa cinta di hati kaum muda terhadap negerinya. Diantaranya memberikan pembenaran karena merasa bahwa negara tidak memberinya apa-apa sebab ia menginvestasikan keringat, tenaga, dan pikirannya untuk membeli dan membayar pajak, tanah, air, energi, serta fasilitas negara yang mereka nikmati dan dibebankan padanya. Diantaranya yang lain seakan tidak tahu menahu soal apatis bahkan tidak menyadari sifat apatisnya, lantaran terbius suntikan entertainment hampir 36 jam setiap hari dalam hidupnya.

Kedua. Koruptor dan MAFIA negara adalah analogi cinta dan apatis paling masuk akal. Koruptor (mungkin) sangat mencintai pekerjaan, keluarganya, atau mungkin cinta pada MATERI, sehingga ia TOTALITAS mengerahkan seluruh tenaga, waktu, pikiran, dan kemampuannya dalam membaca dan menciduk harta negara. Jika saja para koruptor ini mengarahkan tujuannya pada kepentingan negara, dan membenarkan letak cintanya pada Indonesia, mungkin akan menjadi “bacaan” yang gamblang yang dapat membangunkan para pemuda apatis dari tidur panjangnya.

Ketiga. Karena tidak ada rasa cinta terhadap negara, sebaliknya…. menyebarnya ketidakpedulian…. maka koruptor, mafia, dan pemuda apatis adalah menu kuliner yang pas untuk santap siang para pemegang kuasa dunia.

SELAMAT BERBUKA PUASA… 

Lawang, 13 Juni 2017

-aL-

One Response to Mafia dan Pemuda Apatis

  1. Caknia mengatakan:

    good perception.

    Saya jadi teringat beberapa bulan yang lalu diminta markup penawaran project oleh mantan calon client yang masih di dalam area pemerintahan. Tidak perlu saya sebutkan nama dan instansinya. Kemudian saya tanya, “Untuk apa pak, saya rasa hitungan kami sudah cukup jelas. Jika memang ada kebutuhan lain, nanti kami ajukan penawaran kembali”. Saya cukup terkejut dengan jawaban dari beliau, “Jadi begini pak, tahu sama tempe saja, saya bisa loloskan jika nilai project ini saya ajukan segini”, sambil beliau menunjukkan sebuah nilai yang terpampang di kalkulatornya yang hampir 50% lebih banyak daripada nilai yang ada di proposal kami. Ah, sudahlah… tidak perlu pikir panjang untuk membatalkan urusan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *